SUARBERITA.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 7 juta orang terdeteksi mengalami hipertensi melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 755 ribu orang atau 11 persen yang mendapatkan pengobatan. Angka ini masih jauh dari target pemerintah sebesar 80 persen.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan temuan tersebut berasal dari pemeriksaan terhadap sekitar 73 juta peserta CKG sepanjang tahun lalu. Dari jutaan orang yang teridentifikasi memiliki tekanan darah tinggi, sebagian besar belum menjalani pengobatan rutin.
“Jadi tahun lalu diskrining 73 juta, yang ketemu hipertensi itu 7 juta. Hipertensi ini kemudian dikasih obat, yang dia harus minum setiap hari. Yang diobati adalah 755.000. Masih kecil,” ujar Budi dalam konferensi pers dua tahun pemerintahan di bidang kesehatan di Auditorium Leimena, Gedung Adhyatma, Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (22/10).
Menurut Budi, berdasarkan target penanganan pemerintah, jumlah penderita hipertensi yang mendapatkan pengobatan seharusnya mencapai sekitar 5,6 juta orang. Dengan capaian saat ini, masih terdapat kesenjangan besar antara jumlah warga yang terdeteksi dan mereka yang memperoleh penanganan medis.
“Ini harusnya angkanya tuh 5,6 juta. Sekarang kita baru 755.000. Itu PR-nya kita,” katanya.
Pengobatan Gratis di Puskesmas
Budi menegaskan, masyarakat yang terdeteksi mengalami hipertensi dapat memperoleh pengobatan secara gratis melalui puskesmas. Pasien juga perlu menjalani pengobatan secara rutin dan memeriksakan tekanan darah setiap bulan untuk memantau efektivitas terapi.
“Padahal pengobatan ini sifatnya gratis, bisa dilakukan di Puskesmas. Nanti diharapkan sesudah berapa bulan kita kontrol, karena begitu dia diobati, tiap bulan harus diukur tuh tekanan darahnya,” ujarnya.
Kemenkes kini mengumpulkan data untuk mengetahui jumlah pasien yang berhasil mengendalikan tekanan darah setelah menjalani pengobatan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mengevaluasi efektivitas program CKG, tidak hanya dari jumlah masyarakat yang diperiksa, tetapi juga dari hasil penanganan kesehatannya.
Budi menekankan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur berdasarkan banyaknya masyarakat yang menjalani skrining atau menerima obat. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa pengobatan memberikan hasil nyata terhadap kondisi kesehatan masyarakat.
“Targetnya kita bukan hanya skriningnya, bukan hanya dikasih obatnya, tapi memastikan bahwa semua masyarakat kita tuh sehat,” tegasnya.
CKG Jangkau 109 Juta Orang hingga Oktober 2026
Dalam kesempatan yang sama, Budi memaparkan perkembangan pelaksanaan program CKG sepanjang 2026. Hingga Oktober, sebanyak 109 juta orang telah menjalani pemeriksaan kesehatan, sementara jumlah masyarakat yang mendaftar mencapai 116 juta orang.
Pemerintah menargetkan program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut dapat menjangkau 130 juta peserta hingga akhir tahun.
Selain hipertensi, hasil pemeriksaan CKG juga menemukan sekitar 1,1 juta orang dengan diabetes, 13 juta orang mengalami obesitas, serta 256 ribu orang mengalami dislipidemia atau gangguan kadar lemak dalam darah.
Menurut Budi, pemeriksaan kesehatan gratis bertujuan mendeteksi lebih awal faktor-faktor risiko penyakit yang dapat memicu komplikasi serius dan meningkatkan risiko kematian pada usia relatif muda.
Kemenkes memprioritaskan empat faktor risiko utama, yakni tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas. Keempat kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular, termasuk stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal.
Karena itu, deteksi dini perlu diikuti dengan penanganan dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan. Tanpa tindak lanjut yang memadai, temuan dari pemeriksaan kesehatan berisiko tidak menghasilkan perbaikan kondisi kesehatan masyarakat.
Budi menilai pengendalian keempat faktor risiko tersebut dapat membantu menekan komplikasi dan kematian akibat penyakit kardiovaskular.
“Karena kalau kita bisa mengendalikan keempat faktor risiko tadi, terbukti secara riset bisa menurunkan kematian yang tinggi, terutama kematian di bidang cardiovascular disease,” pungkasnya.

